Foodreview.biz, Pengalaman unik lain yang masih terkait dengan produk kopi instan yang dewasa ini semakin marak memasuki pasar Asia Tenggara adalah “kemampuan” luar biasa suatu produk kopi instan lokal Vietnam dalam memberi flavor “roasted beefy” yang sangat kuat bukan saja pada isi cangkir, tetapi juga seluruh ruangan ketika minuman dibuka dari kemasan dan diseduh. Penggunaan senyawa furaneol yang berlebihan akan memberi fenomena ini. Suatu fenomena yang tentunya kurang menguntungkan bagi produk tersebut, walau keberadaan sensasi flavor furaneol pada kopi sangrai sangat diperlukan untuk meningkatkan cita-rasa. Sensasi berlebihan yang diperoleh ini tidak saja menimbulkan kesan tidak alami dari produk tersebut, juga membuat konsumen merasa terganggu dengan aroma yang menusuk.
Penggalan-penggalan pengalaman tersebut nampaknya dapat kembali mengingatkan para praktisi industri minuman untuk mencermati peran flavor pada produknya. Penggunaan flavor dapat menjadi pisau bermata dua: penggunaan yang tepat akan memberikan banyak peluang yang menguntungkan, namun juga sebaliknya penggunaan yang salah dapat menihilkan semua upaya yang dilakukan.
Flavor pada minuman
Menurut praktisi suatu flavor house, perisa yang digunakan pada minuman dapat berupa perisa cair ataupun bubuk, bukan dari senyawa tunggal tetapi berupa campuran dari berbagai material perisa, dan umumnya larut atau dapat bercampur dengan air. Perisa harus digunakan pada konsentrasi yang tepat untuk penggunaan langsung memiliki kestabilan yang baik, harus memenuhi persyaratan keamanan pangan dan aspek legal lain, seperti persyaratan klaim label “alami”, dan lain-lain.
Material perisa dapat berupa bahan alam (oleoresin, minyak atsiri, konsentrat jus, ekstrak kasar, dan lain-lain), process flavor, aroma chemicals atau campurannya. Material perisa sebaiknya tahan terhadap oksidasi, sangat volatil dan pada konsentrasi tinggi. Komposisi perisa, baik yang alami maupun sintetik, harus sesuai dengan kategori minumannya. Ada beberapa versi dalam pembagian jenis perisa minuman. Salah satu versi adalah membagi perisa minuman atas 3 kelompok yaitu perisa larut minyak, perisa larut air dan campuran keduanya (sesuai dengan keperluan teknis aplikasi). Untuk perisa larut minyak, berdasarkan jenis pelarutnya, terbagi lagi atas 2 sub-divisi yaitu untuk minuman beralkohol dan non-alkohol. Versi lain pembagian perisa adalah sebagai berikut: Oils flavors (spesifik untuk minuman beralkohol dengan kandungan gula yang tinggi), alcoholic flavors (mungkin mengandung atau tidak mengandung oil flavors), non-alcoholic flavors (umumnya tidak mengandung oil flavors), emulsion flavors (terbagi atas : perisa larut minyak melalui proses homogenisasi dan pemberi kekeruhan pada minuman), powder flavors (hampir keseluruhan dalam bentuk kering dengan pengering semprot).
Penggalan-penggalan pengalaman tersebut nampaknya dapat kembali mengingatkan para praktisi industri minuman untuk mencermati peran flavor pada produknya. Penggunaan flavor dapat menjadi pisau bermata dua: penggunaan yang tepat akan memberikan banyak peluang yang menguntungkan, namun juga sebaliknya penggunaan yang salah dapat menihilkan semua upaya yang dilakukan.
Flavor pada minuman
Menurut praktisi suatu flavor house, perisa yang digunakan pada minuman dapat berupa perisa cair ataupun bubuk, bukan dari senyawa tunggal tetapi berupa campuran dari berbagai material perisa, dan umumnya larut atau dapat bercampur dengan air. Perisa harus digunakan pada konsentrasi yang tepat untuk penggunaan langsung memiliki kestabilan yang baik, harus memenuhi persyaratan keamanan pangan dan aspek legal lain, seperti persyaratan klaim label “alami”, dan lain-lain.
Material perisa dapat berupa bahan alam (oleoresin, minyak atsiri, konsentrat jus, ekstrak kasar, dan lain-lain), process flavor, aroma chemicals atau campurannya. Material perisa sebaiknya tahan terhadap oksidasi, sangat volatil dan pada konsentrasi tinggi. Komposisi perisa, baik yang alami maupun sintetik, harus sesuai dengan kategori minumannya. Ada beberapa versi dalam pembagian jenis perisa minuman. Salah satu versi adalah membagi perisa minuman atas 3 kelompok yaitu perisa larut minyak, perisa larut air dan campuran keduanya (sesuai dengan keperluan teknis aplikasi). Untuk perisa larut minyak, berdasarkan jenis pelarutnya, terbagi lagi atas 2 sub-divisi yaitu untuk minuman beralkohol dan non-alkohol. Versi lain pembagian perisa adalah sebagai berikut: Oils flavors (spesifik untuk minuman beralkohol dengan kandungan gula yang tinggi), alcoholic flavors (mungkin mengandung atau tidak mengandung oil flavors), non-alcoholic flavors (umumnya tidak mengandung oil flavors), emulsion flavors (terbagi atas : perisa larut minyak melalui proses homogenisasi dan pemberi kekeruhan pada minuman), powder flavors (hampir keseluruhan dalam bentuk kering dengan pengering semprot).